BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1.    Latar Belakang Masalah

Saat kemunculan pertama,filsafat tidak memiliki definisi lain selain sebagai cara atau seni menuju bujak. Dalam konseptualisasi ekstrem,filsafat pada periode pertama saat mulai disadari bahkan tidak,belum memiliki nama apapun,termasuk filsafat. Akan tetapi,pada perkembangannya,saat minat manusia pada bahasa meningkat,filsafat kemudian mengalami fenomena kebahasaan,dan terkontroversikan dalam berbagai istilah sehingga pada akhirnya secara alami,sejarah menentukan takdirnya dengan memilih istilah filsafat sebagai nama untuk menyebut cara menuju bijak.

Secara etimologi filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophia. Philos artinya suka, cinta atau kecenderungan pada sesuatu, sedangkan Sophia artinya kesederhanaan. Dengan demikian secara sederhana filsafat dapat diartikan cinta atau kecenderungan pada kebijaksanaan. Plato memiliki berbagai gagasan tentang filsafat. Antara lain Plato pernah mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni. Selain itu ia juga mengatakan bahwa filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala yang ada. Aristoteles (murid Plato) mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mempelajari “peri ada selaku peri ada” (being as being) atau “peri ada sebagaimana adanya” (being as such).

Lebih lanjut Prof. M. Nasroen, S.H mengatakan filsafat itu adalah sebuah dari corak usaha manusia dalam menghadapi, memecahkan dan menundukkan masalah yang mengenai ada dan hidupnya, yaitu yang akan memberikan kepuasan bagi dirinya. Falsafah itu adalah ciptaan dari manusia, sebagai satu kesatuan tetap dalam falsafah ini. Maka tenaga dan pikiran yang ada pada manusia itulah yang mengambil inisiatip dan mempunyai peranan utama. Tetapi dalam hal ini bukanlah semata-mata fikiran itu saja yang bertindak, sebab yang bertindak itu tetap manusia itu sebagai satu kesatuan, yang berfalsafah itu adalah manusia bukan fikiran, dan dengan falsafah manusia akan berusaha mencapai tujuan yang telah ditentukannya. Maka dengan demikian falsafah itu adalah khayalan, mainan fikiran saja dan akan tidak mungkin membuahkan hasil yang nyata bagi manusia itu.

Dari uraian definisi-definisi di atas jelaslah bahwa falsafah itu tidak hanya sebagai semboyan saja tanpa penyelidikan/pembahasan yang sungguh-sungguh, filsafat menggunakan rasio sebagai alat untuk tujuan kebahagiaan manusia dan bukanlah manusia yang diperalat oleh rasio.

Dalam dunia filsafat timbul berbagai aliran, seiring zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan dan pengalaman, salah satunya apa yang dikenal dengan filsafat Neo-Positivisme.

  1. 2.    Rumusan Masalah

Sehubungan dengan latar belakang tersebut, maka masalahnya akan dirumuskan secara terperinci untuk mempermudah dalam merumuskan tujuan penulisan yang hendak dicapai. Adapun rumusan masalah penulisan adalah sebagai berikut.

1)   Apa pengertian Filsafat Neo-Positivisme?

2)   Bagaimana perkembangan filsafat neo-positivisme ?

3)   Siapa saja tokoh yang menganut paham filsafat neo-positivisme?

4)   Bagaimana pandangan tokoh luar tentang filsafat neo-positivisme?

5)   Bagaimana implikasi filsafat neo-positivisme terhadap pendidikan?

  1. 3.    Batasan makalah

Dalam batasan masalah ini kami akan membatasi masalah dalam makalah yang kami buat tentang ruang lingkup kajian filsafat neo-positivisme

  1. 4.    Tujuan Penulisan
  • Untuk mengetahui pengertian filsafat neo-positivisme.
  • Untuk mengetahui perkembangan filsafat neo-positivisme.
  • Untuk mengetahui siapa saja tokoh yang menganut paham filsafat neo-positivisme.
  • Untuk mengetahui pandangan tokoh luar tentang filsafat neo-positivisme.
  • Untuk mengetahui implikasi filsafat neo-positivisme terhadap pendidikan.
  1. 5.    Metode Penulisan

Dalam penulisan makalah ini kami sebagai penulis menggunakan metode daftar pustaka, mencari dari berbagai media, baik dari media elektronik maupun media cetak

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Definisi dan Pandangan Para Ahli tentang Aliran Neo-Positivisme

            Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. August Comte yang merupakan pelopor dari aliran positivisme menyatakan bahwa alam pikiran manusia dan sejarah manusia telah mengalami tiga fase, dan masing-masing fase yang kemudian lebih tinggi tingkatannya daripada yang mendahuluinya. Fase pertama, yaitu fase teologi dimana manusia percaya bahwa dibelakang gejala-gejala alam terdapat kekuasaan adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. Yang kedua yaitu fase metafisis, dimana kekuasaan adikodrati diganti dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang abstrak. Yang ketiga fase positif, fase ini tertinggi dari kehidupan manusia alasannya ialah karena pada fase ini tidak ada lagi usaha manusia untuk mencari penyebab-penyebab yang terdapat pada di belakang fakta-fakta.

Menurut August Comte, umat manusia sekarang memasuki stadium positif dimana keterangan-keterangan keilmuan menggantikan tempat teologi kristen dan teologi metafisika. Keterangan-keterangan keilmuan adalah lukisan dari peristiwa-peristiwa dan pertalian-pertalian. Roh manusia tidak boleh berspekulasi melainkan harus mengorganisasi bukan hanya dirinya sendiri sajamelainkan juga masyarakatnya ini sesuai dengan revolusi industri yang dialami oleh masyarakat. Pengaruh yang lebih langsung atas neo-positivisme adalah dari “empiriocritisme”. Richard Avenarius sebagai pelopor dari kaum neo-positivisme, ia memberikan kepada filsafat derajat kepastian yang sama dengan ilmu pasti yaitu dengan mempergunakan metode metafisika dan dengan pertolongan alat-alat pernyataan metafisika.

Comte sependapat dengan Descartes dan Newton, dimana ilmu pasti dijadikan dasar segala filsafat. Ilmu pasti memiliki dalil-dalil yang bersifat umum, paling sederhana, dan paling abstrak. Sehingga, ilmu pasti merupakan ilmu yang paling bebas. Psikologi tidak mendapat tempat pada Comte, karena manusia tidak mungkin dapat menyelidiki dirinya sendiri.

August Comte memberikan suatu landasan sosiologi, sedangkan John Stuart Mill memberikan landasan-landasan psikologis terhadap filsafat positivisme. Karena itu Mill berpandangan bahwa psikologi merupakan pengetahuan dasar bagi filsafat. Seperti halnya dengan kaum positif, Mill mengakui bahwa satu-satunya yang menjadi sumber pengetahuan ialah pengalaman, karena itu induksi merupakan metode yang paling dipercaya dalam ilmu pengetahuan.

Dalam perkembangannya, positivisme mengalami perombakan dibeberapa sisi, hingga munculah aliran pemikiran yang bernama Positivisme Logis. Positivisme logis (disebut juga sebagai empirisme logis, empirisme rasional, dan juga neo-positivisme) adalah sebuah filsafat yang berasal dari Lingkaran Wina pada tahun 1920-an. Lingkaran Wina merupakan kelompok neo-positivisme (positivisme logis) yang melanjutkan proyek positivisme. Pada umumnya disebut juga mazhab “wina”  atau “kring wina” kaum neo-positivisme semenjak semula telah  membentuk suatu mazhab, malah pernah dikatatakan orang suatu sekte yang tidak bebas pula dari kesempitan hati seperti sudah ghaibnya, terdapat pada sekte-sektenya. Neo-positivisme berpendapat bahwa filsafat harus mengikuti rigoritas yang sama dengan sains. Filsafat harus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan apakah sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti sama sekali.

Neopositivisme adalah penganut suatu aliran dalam filsafat yang menanamkan juga diri mereka sebagai kaum “empiris logika”. Dapat juga disebut kaum “fisikalis”, bahkan beberapa dari mereka menanamkan sebagai penganut “logistik “ (logika formalis atau logika simbolis).

Kaum neopositivisme mempunyai keyakinan bahwa filsafat sebagai ilmu hanya “aman” dalam tangan mereka sendiri dan bahwa tiap orang mempelajari filsafat menurut cara lain mungkin ada mengerjakan sesuatu yang sangat penting dan luhur, tetapi bahkan mengerjakan sesuatu secara ilmu. Nama neopositivisme telah menyatakan bahwa kita disini seperti halnya neokantianisme berhadapan dengan suatu pergerakan yang merupakan suatu lanjutan dari aliran-aliran yang lama.

Menurut E. Von Aster, “neopositivisme” mempunyai dua akar utama yang satu adalah terhadap aliran metafisika, yang kedua adalah neopositivisme terletak dalam perkembangan ilmu pasti dan ilmu alam modern.

Neopositivisme cenderung untuk menumbuhkan pengetahuan dengan bahan ilmu alam dan menyerahkan pertanyaan-pertanyaan tentang makna saja untuk di analisis oleh filsafat. Karl R Popper merupakan seorang tokoh yang mengkritik aliran positivisme logis (neo-positivisme). Asumsi pokok  teorinya adalah satu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya, dan Popper menyajikan teori ilmu pengetahuan baru ini sebagai penolakannya atas positivisme logis yang beranggapan bahwa pengetahuan ilmiah pada dasarnya tidak lain hanya berupa generalisasi pengalaman atau fakta nyata dengan menggunakan ilmu pasti dan logika. Dan menurut positivisme logis tugas filsafat ilmu pengetahuan adalah menanamkan dasar untuk ilmu pengetahuan.

Hal yang dikritik oleh Popper pada Positivisme Logis adalah tentang metode Induksi, ia berpendapat bahwa Induksi tidak lain hanya khayalan belaka, dan mustahil dapat menghasilkan pengetahuan ilmiah melalui induksi. Tujuan Ilmu Pengetahuan adalah mengembangkan pengetahuan ilmiah yang berlaku dan benar, untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan logika, namun jenis penalaran yang dipakai oleh positivisme logis adalah induksi dirasakan tidak tepat sebab jenis penalaran ini tidak mungkin menghasilkan pengetahuan ilmiah yang benar dan berlaku, karena elemahan yang bisa terjadi adalah kesalahan dalam penarikan kesimpulan, dimana dari premis-premis yang dikumpulkan kemungkinan tidak lengkap sehingga kesimpulan atau generalisasi yang dihasilkan tidak mewakili fakta yang ada. Dan menurutnya agar pengetahuan itu dapat berlaku dan bernilai benar maka penalaran yang harus dipakai adalah penalaran deduktif. Penolakan lainnya adalah tentang Fakta Keras, Popper berpendapat bahwa fakta keras yang berdiri sendiri dan terpisah dari teori sebenarnya tidak ada, karena fakta keras selalu terkait dengan teori, yakni berkaitan pula dengan asumsi atau pendugaan tertentu. Dengan demikian pernyataan pengamatan, yang dipakai sebagai landasan untuk membangun teori dalam positivisme logis tidak pernah bisa dikatakan benar secara mutlak.

B.     Perkembangan Aliran Neo-Positivisme

Sesungguhnya aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis sebagai suatu sarana untuk memperoleh pengetahuan (seperti yang diusung oleh kaum idealisme khususnya idealisme Jerman Klasik). Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan. Terdapat tiga tahap dalam perkembangan positivisme, yaitu:

  1. Tempat utama dalam positivisme pertama diberikan pada Sosiologi, walaupun perhatiannya juga diberikan pada teori pengetahuan yang diungkapkan oleh Comte dan tentang Logika yang dikemukakan oleh Mill. Tokoh-tokohnya Auguste Comte, E. Littre, P. Laffitte, JS. Mill dan Spencer.
  2. Munculnya tahap kedua dalam positivisme – empirio-positivisme – berawal pada tahun 1870-1890-an dan berpautan dengan Mach dan Avenarius. Keduanya meninggalkan pengetahuan formal tentang obyek-obyek nyata obyektif, yang merupakan suatu ciri positivisme awal. Dalam Machisme, masalah-masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang psikologisme ekstrim, yang bergabung dengan subyektivisme.
  3. Perkembangan positivisme tahap terakhir berkaitan dengan lingkaran Wina dengan tokoh-tokohnya O.Neurath, Carnap, Schlick, Frank, dan lain-lain. Serta kelompok yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga ini adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin. Kedua kelompok ini menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logis, positivisme logis, serta semantika. Pokok bahasan positivisme tahap ketiga ini diantaranya tentang bahasa, logika simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan lain-lain
    C.    Implikasi Aliran Neo-Positivisme dalam Pendidikan

 Pendidikan sebagaimana telah dikemukakan dalam pendahuluan, hakikat pendidikan tiada lain adalah humanisasi. Tujuan pendidikan adalah terwujudnya manusia ideal atau manusia yang dicita-citakan sesuai nilai-nilai dan normanorma yang dianut. Contoh manusia ideal yang menjadi tujuan pendidikan tersebut antara lain: manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, cerdas, terampil, dst. Sebab itu, pendidikan bersifat normatif dan mesti dapat dipertanggungjawabkan. Mengingat hal di atas, pendidikan tidak boleh dilaksanakan secara sembarang, melainkan harus dilaksanakan secara bijaksana. Maksudnya, pendidikan harus dilaksanakan secara disadari dengan mengacu kepada suatu landasan yang kokoh, sehingga jelas tujuannya, tepat isi kurikulumnya, serta efisien dan efektif cara-cara pelaksanaannya. Implikasinya, dalam pendidikan, menurut Tatang S (1994) mesti terdapat momen berpikir dan momen bertindak. Secara lebih luas dapat dikatakan bahwa dalam rangka pendidikan itu (Redja M; 1994), terdapat momen studi pendidikan dan momen praktek pendidikan. Momen studi pendidikan yaitu saat berpikir atau saat mempelajari pendidikan dengan tujuan untuk memahami/menghasilkan sistem konsep pendidikan.

Mazhab neo-Positivisme berpandangan bahwa kenyataan yang sebenarnya merupakan kerangka kerja yang berada dalam ruang, waktu, dan berlangsung hubungan sebab akibat (spatio – temporal – causal network). Pendidikan bertujuan mendorong perkembangan intelektual dan sosial individu. Pendidikan melalui pengalaman langsung, dan belajar menggunakan prosedur kerja ilmiah. Berdasarkan klasifikasi sikap dan orientasi pendidikan serta peranan pendidikan terhadap perubahan social, baik Brubacher maupun B.O Smith, mengklasifikasikan sistem-sistem filsafat pendidikan menjadi 4 aliran, yaitu: (1)progresivisme

(2) essensialisme

(3) perenialisme

(4) rekonstruksionisme.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Neo-positivisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang aktual dan positif.

2. Kaum neo-positivisme memiliki kesamaan dengan kaum empiris.

3. Menurut Comte bahwa perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam 3 fase yaitu:

a. Fase Ideologi

b. Fase Metafisika dan

c. Fase Positif

B. SARAN

Penulis menyadari makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangatlah penulis harapkan demi perbaikan makalah ini. Dan semoga makalah ini dapat menjadi khazanah pengetahuan khususnya bagi penulis dan juga kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

SUMBER DARI BUKU

S. Praja Juhaya.2010.Aliran-Aliran Filsafat dan Etika.Jakarta: Prenada Media Group.

Salam,Burhanuddin. 2000. Sejarah Filsafat Ilmu dan Tehknologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Wangsa Gandhi, Teguh. 2011. Filsafat Pendidikan. Yogjakarta:Ar- Ruz zmedia.

SUMBER DARI INTERNET

http://www.scribd.com/doc/84995160/Untitled

http://jimmysimamora.blogspot.com/2011/06/neo-positivisme-dan-perkembangannya.html

http://makalah-arsipku.blogspot.com/2011/01/filsafat-ilmu-neo-positivisme.html?m=1

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEDAGOGIK/195009081981011-Y._SUYITNO/LANDASAN_FILOSOFIS_PENDIDIKAN_DASAR.pdf

Note:

makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas filsafat pendidikan oleh Marlinda,Juraidah,Fitriani,Rina Rizky khairunnisa,dan teman-teman..:)