BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Keberhasilan dalam melaksanakan suatu tugas merupakan dambaan setiap orang.Berhasil berarti terwujudnya harapan.Hal ini juga menyangkut segi efisiensi, rasa percaya diri ataupun prestise.Lebih-lebih bila keberhasilan tersebut terjadi pada tugas atau aktivitas yang berskala besar. Namun perlu disadari bahwa pada dasarnya setiap tugas atau aktivitas selalu berakhir pada dua kemungkinan : berhasil atau gagal.

Belajar merupakan tugas utama siswa, disamping tugas-tugas yang lain. Keberhasilan dalam belajar bukan hanya diharapkan oleh siswa yang bersangkutan, tetapi juga oleh orang tua, guru dan juga masyarakat.Tentu saja yang diharapkan bukan hanya berhasil, tetapi berhasil secara optimal.Untuk itu diperlukan persyaratan yang memadai, yaitu persyaratan psikologis, biologis, material dan lingkungan sosial yang kondusif.

Bila keberhasilan merupakan dambaan setiap orang, maka kegagalan juga dapat terjadi pada setiap orang. Beberapa wujud ketidakberhasilan siswa dalam belajar, yaitumemperoleh nilai jelek untuk sebagian atau seluruh mata pelajaran, tidak naik kelas, putus sekolah (dropout) dan tidak lulus ujian akhir.

Kegagalan dalam belajar sebagaimana contoh di atas berarti rugi waktu, tenaga dan juga biaya.Dan tidak kalah penting adalah dampak kegagalan belajar pada rasa percaya diri.Kerugian tersebut bukan hanya dirasakan oleh yang bersangkutan tetapi juga oleh keluarga dan lembaga pendidikan.Oleh karena itu upaya mencegah atau setidak tidaknya meminimalkan dan juga memecahkan kesulitan belajar melalui diagnosis kesulitan belajar siswa merupakan kegiatan yang perlu dilaksanakan. Selain itu, bimbingan dan konseling juga sangat diperlukan dalam proses pendidikan.  

B. Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud dengan murid berkebiasaan buruk ?
  2. Apa saja ciri-ciri dari murid berkebiasaan buruk ?
  3. Bagaimanakah bimbingan dan konseling terhadap murid berkebiasaan buruk ?
  4. Apa yang dimaksud dengan murid yang lambat belajar ?
  5. Apa saja ciri-ciri dari murid yang lambat belajar ?
  6. Bagaimanakah bimbingan dan konseling terhadap murid yang lambat belajar ?
  7. Apa yang dimaksud dengan murid cepat belajar ?
  8. Bagaimanakah bimbingan dan konseling terhadap murid cepat belajar ?

C.      Tujuan

  1. Untuk mengetahui pengertian dari  murid berkebiasaan buruk.
  2. Untuk mengetahui ciri-ciri dari murid berkebiasaan buruk.
  3. Untuk mengetahui bimbingan dan konseling terhadap murid berkebiasaan buruk.
  4. Untuk mengetahui pengertian dari murid yang lambat belajar.
  5. Untuk mengetahui ciri-ciri dari murid yang lambat belajar.
  6. Untuk mengetahui bimbingan dan konseling terhadap murid lambat belajar.
  7. Untuk mengetahui pengertian dari murid cepat belajar.
  8. Untuk mengetahui bimbingan dan konseling terhadap murid cepat belajar.

BAB II
PEMBAHASAN

A.   Orientasi Bimbingan dan Konseling

1. Latar Belakang Bimbingan dan Konseling

a.      Latar Belakang Sosio-Kultural

Perkembangan zaman banyak menimbulkan perubahan dan kemajuan dalam berbagai segi kehidupan dalam masyarakat.Perkembangan pengetahuan dan teknologi menimbulkan perubahan-perubahan dalam berbagai aspek kehidupan seperti aspek sosial, politik, ekonomi, industri dan sebagainya.Keadaan ini berpengaruh pula pada kehidupan seseorang sebagai anggota masyarakat maupun sebagai pribadi.Seseorang dihadapkan pada situasi yang penuh dengan perubahan-perubahan yang serba kompleks.Perubahan dan perkembangan zaman modern menimbulkan berbagai masalah yang menyangkut dengan kompleksnya jenis-jenis dan syarat-syarat pekerjaan, jenis dan pola kehidupan, jenis dan kesempatan pendidikan, persaingan antar individu dan sebagainya.Dalam hal ini individu-individu tertentu perlu mendapat bantuan yang memadai dalam usaha mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh masalah-masalah yang dihadapinya itu.

Sekolah tidak dapat melepas diri dari situasi kehidupan masyarakat.Sekolah mempunyai tanggung jawab untuk membantu para murid baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat.Sebagai suatu lembaga pendidikan formal, sekolah bertanggungjawab untuk mendidik dan menyiapkan murid agar berhasil menyesuaikan diri di masyarakat dan mampu memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya sebagai akibat dari kemajuan perkembangan zaman.Dalam situasi inilah bimbingan dan konseling akan terasa diperlukan sebagai suatu bentuk bantuan kepada murid.

b.      Perkembangan Pendidikan

Sebagai suatu proses yang dinamis, pendidikan akan senantiasa berkembang dari waktu ke waktu sesuai dengan perkembangan yang terjadi di lingkungan umumnya. Salah satu ciri perkembangan pendidikan adalah adanya perubahan-perubahan dari berbagai komponen sistem pendidikan seperti strategi belajar mengajar, kurikulum, alat bantu mengajar dan sebagainya.

c.       Masalah Perkembangan Individu

Proses pertumbuhan dan perkembangan yang berlangsung dengan cepat terutama pada masa kanak-kanak, masa sekolah, masa pemuda serta permulaan masa dewasa. Pendidikan sebagai salah satu bentuk lingkungan, bertanggungjawab dalam memberi asuhan terhadap proses perkembangan individu. Bimbingan dan konseling merupakan bantuan didalam memperoleh penyesuaian diri sesuai tingkat perkembangannya.Melalui layanan bimbingan dan konseling, murid dibantu agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya dengan baik. Dengan demikian, pemahaman terhadap masalah perkembangan dengan prinsip-prinsipnya akan merupakan kebutuhan yang mendasar bagi pelaksanaan bimbingan dan konseling.

d.      Masalah Perbedaan Individu

Peserta didik kita itu merupakan pribadi yang sedang bertumbuh dan berkembang. Apabila kita amati secara seksama, mungkin kita menghadapi dua peserta didik yang sama benar. Disamping memiliki kesamaan-kesamaan, tentu masing-masing anak memiliki sifat yang khas, yang hanya dimiliki oleh diri masing-masing.Timbulnya perbedaan ini dapat kita kembalikan kepada faktor pembawaan dan lingkungan sebagai komponen utama bagi terbentuknya keunikan individu.

Di sekolah seringkali tampak masalah perbedaan individu, misalnya ada murid yang lambat dan ada murid yang cepat belajarnya, ada yang cerdas, ada yang berbakat dalam bidang-bidang tertentu dan sebagainya.

Mengingat bahwa yang menjadi tujuan pendidikan adalah perkembangan murid yang optimal dari setiap individu, maka masalah perbedaan individu ini perlu mendapat perhatian dalam pelayanan pendidikan di sekolah. Dengan kata lain sekolah hendaknya memberikan pelayanan kepada murid-muridnya secara individu dengan keunikannya masing-masing. Usaha melayani secara individual ini dapat diselenggarakan melalui program bimbingan dan konseling.

e.       Masalah Penyesuaian Diri dan Kelainan Tingkah Laku

Kebutuhan merupakan dasar timbulnya tingkah laku individu.Individu bertingkah laku karena adanya dorongan untuk memenuhi kebutuhannya. Proses tersebut lebih dikenal sebagai proses penyesuaian diri. Individu harus menyesuaikan diri dengan berbagai lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

Proses penyesuaian diri ini banyak sekali menimbulkan masalah terutama bagi diri individu itu sendiri. Jika individu dapat berhasil memenuhi kebutuhannya sesuai dengan lingkungannya dan tanpa menimbulkan gangguan atau kerugian bagi lingkungannya, hal ini disebut penyesuaian yang baik. Dan sebaliknya jika individu gagal dalam proses penyesuaian diri maka ia akan sampai pada suatu situasi salah usai dan gejala-gejala salah usai ini akan dimanifestasikan dalam bentuk-bentuk tingkah laku yang kurang wajar, seperti rendah diri, agresif dan sebagainya.

f.        Masalah Belajar

Secara psikologis, belajar dapat diartikan sebagai suatu proses memperoleh perubahan tingkah laku untuk mendapatkan pola-pola respon baru yang diperlukan dalam interaksi dengan lingkungan secara efisien. Dalam kegiatan belajar banyak masalah yang timbul terutama yang dirasakan oleh si pelajar.Sekolah mempunyai tanggungjawab dalam membantu murid agar mereka berhasil dalam belajar.Disinilah letak penting dan perlunya bimbingan dan konseling untuk membantu murid-murid agar mereka berhasil dalam belajar.

2. Pengertian Bimbingan dan Konseling

a.      Pengertian Bimbingan

Bimbingan dan konseling merupakan terjemahan dari istilah guidance dan counseling dalam Bahasa Inggris.Bimbingan dapat diartikan secara umum sebagai suatu bantuan atau tuntunan.Namun tidak semua bentuk bantuan adalah bimbingan.

Beberapa definisi tentang bimbingan sebagai berikut :

  1. Definisi yang dikemukakan dalam “ year book of education “1955. Bimbingan adalah suatu proses membantu individu melalui usahanya sendiri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.
  2. Menurut Stoops dan Wal Quist, bimbingan adalah suatu proses yang terus menerus dalam membantu perkembangan individu untuk mencapai kemampuannya secara maksimal dalam mengarahkan manfaat yang sebesar-besarnya baik bagi dirinya sendiri maupun masyarakat.
  3. Menurut Crow of Crow, bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang baik pria maupun wanita yang memiliki pribadi yang baik dan pendidikan yang memadai, kepada seseorang individu dari setiap usia untuk menolongnya mengembangkan kegiatan-kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan arah pandangannya sendiri, membuat pilihan sendiri dan memikul bebannya sendiri.

Dengan membandingkan beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan pengertian bimbingan sebagai berikut :

  1. Bimbingan merupakan suatu proses yang berkelanjutan.
  2. Bimbingan merupakan proses membantu individu.
  3. Bantuan yang diberikan ialah kepada setiap individu yang memerlukannya di dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
  4. Bantuan yang diberikan ialah agar individu dapat mengembangkan dirinya secara optimal sesuai dengan potensi atau kapasitasnya.
  5. Tujuan bimbingan adalah agar individu dapat menyesuaikan diri kepada lingkungannya yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
  6. Untuk pelaksanaan bimbingan diperlukan adanya personal yang memiliki keahlian dan pengalaman yang khusus dalam bidang bimbingan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus-menerus dan sistematis dari pembimbing kepada terbimbing agar tercapat pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri dan perwujudan diri dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan.

b.      Hubungan Antara Bimbingan dan Konseling

Konseling merupakan suatu proses pertemuan antara konselor dengan klien dimana konselor membantu dalam mengusahakan perubahan sikap dan tingkah laku. Sasaran utama dari konseling adalah perubahan sikap dan tingkah laku, sesuai pula dengan definisi yang dikemukakan Rogers, yaitu konseling adalah serangkaian hubungan langsung dengan individu dengan tujuan memberikan bantuan kepadanya dalam merubah sikap dan tingkah lakunya.

Menurut Long E. Taylor, ada 5 ciri konseling, yaitu :

  1. Konseling tidak sama dengan pemberian nasehat.
  2. Konseling mengusahakan perubahan-perubahan yang bersifat fundamental.
  3. Konseling lebih menyangkut masalah sikap daripada tindakan.
  4. Konseling berkenaan dengan penghayatan emosional daripada pemahaman intelektual.
  5. Konseling menyangkut hubungan klien dengan orang lain.

Dalam konseling, konselor tidak memberikan pemecahan, tetapi berusaha untuk menciptakan situasi, dimana berkat situasi tersebut si klien menemukan sesuatu yang berharga bagi dirinya sehingga terjadi perubahan pandangan, perubahan pola hidup dan perubahan sikap.Jadi di dalam penyuluhan perubahan masalah klien ditemukan dan dilakukan oleh klien itu sendiri.Untuk dapat memecahkan masalahnya klien perlu merubah sikap oleh dirinya sendiri.

C.Tujuan Bimbingan dan Konseling

Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat :

  1. Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupannya di masa yang akan datang.
  2. Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin.
  3. Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, masyarakat serta lingkungan kerjanya.
  4. Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan masyarakat maupun lingkungan kerja.

Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi :

  1.  Aspek Pribadi-Sosial, yaitu :
  • Ø Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  • Ø Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain.
  • Ø Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif.
  • Ø Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif.
  • Ø Memiliki sikap positif.
  • Ø Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat.
  • Ø Bersikap respek terhadap orang lain.
  • Ø Memiliki rasa tanggung jawab.
  • Ø Memiliki kemampuan berinteraksi sosial.
  • Ø Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik.
  • Ø Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.
  1. Aspek Akademik ( Belajar ), yaitu :
  • Ø Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar.
  • Ø Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif.
  • Ø Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.
  • Ø Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif.
  • Ø Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan.
  1. Aspek Karir, yaitu :
  • Memiliki pemahaman diri.
  • Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir.
  • Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja.
  • Memahami relevansi kompetensi belajar.
  • Memiliki kemampuan merencanakan masa depan.
  • Dapat membentuk pola-pola karir.
  • Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat.
  • Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir.

D. Jenis-jenis Bimbingan dan Konseling

a.      Jenis-Jenis Masalah yang Dihadapi Individu

Pada umumnya jenis-jenis masalah yang dihadapi individu, terutama yang dihadapi oleh murid sekolah, dapat digolongkan menjadi beberapa jenis masalah, yaitu :

    1.   Masalah Pengajaran atau Belajar

Dalam perbuatan belajar dapat timbul berbagai masalah baik bagi pelajar itu sendiri maupun bagi pengajar.Bagi murid sendiri sering mengalami berbagai kesulitan dalam menghadapi kegiatan pelajaran.

2. Masalah Pendidikan

Dalam hubungan ini individu menghadapi berbagai kesulitan yang berhubungan dengan kegiatan pendidikan pada umumnya. Ketika anak memasuki situasi sekolah yang baru ia dihadapkan pada beberapa masalah, misalnya menyesuaikan diri dengan sekolah baru. Dalam keseluruhan program pendidikan di sekolah, murid-murid akan menghadapi maslah-masalah seperti memilih kegiatan ekstrakurikuler. Pada akhir pendidikan murid-murid akan berhadapan dengan berbagai masalah misalnya memilih studi lanjut.

3.  Masalah Karir

Masalah-masalah ini berhubungan dengan memilih pekerjaan.Pada umumnya masalah pekerjaan ini dirasakan oleh murid-murid sekolah, terutama yang duduk di SMA dan Perguruan Tinggi.

4. Masalah Penggunaan Waktu Senggang

Masalah ini dirasakan oleh murid dalam menghadapi waktu-waktu yang luang yang tidak terisi oleh suatu kegiatan tertentu. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana cara mengisi waktu-waktu tersebut dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat di lingkungannya. Ketidakmampuan menggunakan waktu senggang kadang-kadang dapat menimbulkan masalah-masalah yang lebih besar lagi, misalnya kenakalan anak.

5. Masalah Sosial

Kadang-kadang murid menghadapi kesulitan dalam hubungannya dengan individu lain atau dengan lingkungan sosialnya. Masalah ini timbul karena kekurangmampuan murid berhubungan dengan lingkungan sosialnya atau lingkungan sosial itu sendiri kurang sesuai dengan keadaan dirinya.

6.   Masalah Pribadi

Dalam situasi tertentu murid dihadapkan pada suatu kesulitan yang bersumber dari dalam dirinya.Masalah-masalah itu timbul karena individu merasa kurang berhasil dalam menghadapi dan menyesuaikan diri dengan hal-hal dari dalam dirinya sendiri. Pada umumnya masalah pribadi ini timbul karena individu tidak berhasil dalam mempertemukan antara aspek-aspek pribadi di satu pihak dan keadaan lingkungan di pihak lain.

 b.      Jenis-jenis Bimbingan

Jenis-jenis bimbingan dapat dikelompokkan berdasarkan masalah-masalah yang dihadapi oleh individu, yaitu :

1.      Bimbingan pengajaran / belajar.

Jenis bimbingan ini memberikan bantuan kepada murid dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan masalah belajar.Tujuan bimbingan ini adalah membantu murid-murid agar mendapat penyesuaian yang baik dalam situasi belajar.

2.      Bimbingan pendidikan

Bimbingan pendidikan bertujuan untuk membantu murid dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah dalam bidang pendidikan. Bimbingan pendidikan memberikan bantuan kepada murid-murid dalam hal-hal sebagai berikut :

  • Pengenalan terhadap studi lanjut.
  • Pengenalan terhadap situasi pendidikan yang dihadapi.
  • Perencanaan pendidikan.
  • 3.      Bimbingan pekerjaan / jabatan

Bimbingan pekerjaan / jabatan bertujuan membantu murid-murid dalam mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan pemilihan pekerjaan / jabatan.

4.      Bimbingan sosial

Bimbingan sosial adalah jenis bimbingan yang bertujuan untuk membantu individu dalam memecahkan dan mengatasi kesulitan-kesulitan dalam masalah sosial, sehingga individu dapat menyesuaikan dalam lingkungan sosialnya dengan sebaik-baiknya.

5.      Bimbingan dalam menggunakan waktu senggang

Bimbingan ini bertujuan membantu murid-murid dalam menggunakan waktu senggang dengan kegiatan-kegiatan yang membawa manfaat bagi dirinya maupun lingkungannya.

6.      Bimbingan pribadi

Bimbingan ini membantu individu untuk mengatasi masalah-masalah yang bersifat pribadi sebagai akibat kekurangmampuan individu dalam menyesuaikan diri dengan aspek-aspek perkembangan, persahabatan, keluarga, cita-cita, seks, konflik pribadi dan sebagainya.

  1. A.    Bimbingan dan Konseling Terhadap Murid Berkebiasaan Buruk
  2. 1.      Pengertian Murid Berkebiasaan Buruk dan Ciri-cirinya

Kebiasaan dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan atau sifat yang secara konstan terlihat dalam kelakuan seseorang. Murid yang berkebiasaan buruk adalah perbuatan atau sikap seorang murid yang berulangkali dilakukan dengan sengaja dan sifatnya bertentangan dengan perbuatan atau sikap sebagaimana diharapkan dari padanya oleh orang lain. Adapun ciri-ciri murid yang termasuk dalam kategori berkebiasaan buruk, yaitu :

  1. Kebiasaan yang ada pada seorang murid terlihat dalam tindakan dan sikap yang dilakukan berulangkali karena bertentangan dengan norma yang dianut oleh kelompoknya.
  2. Kebiasaan murid yang bertentangan dengan norma yang dianut dalam lingkungan masyarakatnya.
  3. Kebiasaan yang bertentangan dengan kesusilaan.
  4. Murid yang memiliki sikap atau watak tertentu yang tidak baik.
  5. Tindakan yang dilakukan murid sehingga dapat merugikan dirinya sendiri maupun lingkungannya.
  6. Tindakan yang menjadi problem dalam pengajaran yaitu problem kronis.

  Jenis-jenis Kebiasaan Buruk

a.      Murid yang Agresif

Murid agresif mempunyai kebiasaan atau kecenderungan untuk menyerang anak lain, bahkan kadang-kadang gurunya sendiri.

b.      Anak Pemarah dan Mudah Tersinggung

Baik di rumah maupun di sekolah, guru dan orang tua kadang-kadang berhadapan dengan murid yang belum sanggup menahan perasaan.Apabila sikap dan tingkah laku itu berulang kali terjadi, dapat dikatakan murid tersebut telah terlanjur memiliki kebiasaan buruk.

c.       Murid yang Menguasai Murid Lain

Murid berkebiasaan buruk seperti ini sampai hati melukai murid lain baik fisik maupun perasaannya. Ia akan bangga kalau melihat murid yang lebih kecil menangis dan menderita.

d.      Murid Curang, Menipu, Mencuri dan Berdusta

Murid yang biasa mengambil barang atau benda kecil yang hampir tidak berharga akan dapat berubah menjadi pencuri kecil dan akhirnya akan dapat menjadi pencuri ulung. Kecurangan dalam mengerjakan tes tidak selamanya menandakan murid yang melakukan tidak bisa dipercaya. Kecenderungan ini timbul apabila tes terlalu sukar, sehingga anak merasa takut akan mendapatkan hasil jelek. Berdusta yang dilakukan oleh murid menunjukkan kurang  memenuhipersyaratan baku orang dewasa sehingga banyak memberikan tafsiran yang salah.

e.       Anak yang Iri Hati

Kebiasaan murid yang iri hati terlihat dalam berbagai bentuk sikap, misalnya acuh tak acuh, mencari kesalahan teman lain dan menjatuhkan nama teman dan sebagainya.

f.        Murid Pemalu, Sukar Bergaul dan Menyendiri

Murid jenis ini mudah tersinggung perasaannya.Ia benar-benar menderita karena tidak banyak mengalami kebahagiaan di rumah maupun di sekolah. Biasanya karena mempunyai kekurangan fisik sehingga rendah diri.

g.      Murid yang Selalu Berusaha Menarik Perhatian

Murid ini dengan berbagai cara berusaha agar dapat menarik perhatian teman-teman dan gurunya. Mungkin berteriak, membuat gaduh di kelas dan sebagainya.

h.      Murid Berkebiasaan Kurang Aturan, Kurang Sopan dan Kurang Tata Krama

Pelajaran akhlak, budi pekerti, sopan santun dan sejenisnya banyak diajarkan di sekolah. Meskipun demikian di sekolah atau di rumah masih ada murid yang berkebiasaan buruk yaitu bertentangan dengan apa yang dipelajari di sekolah.

 Sebab-sebab Murid Berkebiasaan Buruk

Hampir semua kebiasaan buruk disebabkan penyesuaian sosial yang salah.Untuk pertumbuhan pribadi yang sehat, manusia melakukan penyesuaian sosial sejak lahir. Penyesuaian diri pada lingkungan sosial tumbuh dan berkembang sejalan dengan bertambahnya usia dan kematangan pribadi.

Untuk melepaskan diri dari ketegangan itu ia akan memilih salah satu dari kemungkinan menyesuaikan diri yaitu :

a.      Penyesuaian yang langsung dapat menyelesaikan masalah.

Cara penyesuaian ini dapat dibenarkan karena langsung dapat memecahkan persoalan, misalnya bentuk penyesuaian sublimasi. Maksudnya apabila individu gagal dalam suatu hal, langsung mengalihkan perhatian pada cita-cita lain yang lebih sesuai dan diharapkan akan lebih berhasil daripada sebelumnya.

b.      Penyesuaian sebagian dengan kelakuan mempertahankan diri.

Penyesuaian diri dengan tingkah laku mempertahankan diri terdiri dari dua bentuk yaitu membela diri ( kompensasi, proyeksi, identifikasi, rasionalosasi dan represi) dan pengunduran diri ( negativism, disasosiasi dan substitusi )

c.       Penyesuaian yang salah yang tidak membawa penyelesaian.

Bentuk penyesuaian yang salah sama sekali adalah jika usaha tidak memberikan hasil akan tetapi justru membawa malapetaka yaitu dalam bentuk gangguan kejiwaan dan bersifat kejasmanian. Adapun kebiasaan buruk murid dalam bentuk penyesuaian yang salah dapat digolongkan menjadi dua, yaitu gejala-gejala murid yang agresif dan gejala-gejala murid yang mengundurkan diri.

Langkah Bimbingan yang Ditempuh

Berikut ini merupakan saran yang dapat ditempuh oleh konselor dalam memberikan bimbingan terhadap murid yang berkebiasaan buruk :

a.      Usaha Pencegahan

Usaha pencegahan yang dilakukan adalah menciptakan kondisi sekolah lebih sehat yang menunjang bagi perkembangan sosial  dan kesehatan mental anak. Langkah-langkah pencegahan yang dapat ditempuh, yaitu :

  1. Menciptakan lingkungan sekolah yang memungkinkan adanya pergaulan yang sehat.
  2. Kurikulum dan bahan pengajaran modul disesuaikan pada kebutuhan murid.

Hubungan antara guru dengan murid yang akrab dengan memperhatikan kaidah-kaidah dan norma-norma serta batas tanggungjawab yang jelas.

b.  Usaha Referal ( Penyerahan )

Untuk kasus kebiasaan buruk yang belum parah maka konselor bersama-sama guru akan dapat mengatasi. Tetapi apabila kasus itu sudah parah hendaknya guru menyerahkan kasus referal itu kepada konselor atau lembaga yang berwenang menangani kasus tersebut. Cara melaksanakan referal perlu memperhatikan beberapa hal, yaitu :

  1. Penyerahan hanya dilaksanakan untuk memberi pertolongan.
  2. Penyerahan tidak dimaksudkan memperuncing masalah.
  3. Penyerahan kasus dilaksanakan dengan penuh kehangatan dan keramahtamahan.

c.       Usaha Konseling Kelompok

Konseling kelompok diberlakukan bagi murid-murid yang sudah dapat mengadakan kontak dengan orang lain dengan bahasa lisan. Adapun cara melaksanakannya adalah :

  1. Kelompok ditunjuk oleh pembimbing dengan memperhatikan keseimbangan murid agresif dan murid pasif.
  2. Kelompok berdiskusi sampai 3 kali seminggu.
  3. Tujuannya adalah saling mengenal satu sama lain.
  4. Konselor bertugas menciptakan suasana akrab.
  5. Pembicaraan cenderung berkisar pada pengalaman masing-masing murid.

d.      Menyelenggarakan Konseling Pribadi

Konseling merupakan layanan yang teratur, terarah dan terkontrol serta tidak diselenggarakan secara acak ataupun seadanya.Sebagai rambu-rambu pokok dalam pelaksanaan layanan konseling, Munro, dkk.mengemukakan tiga dasar etika konseling, yaitu :

  1. Kerahasiaan.
  2. Keterbukaan.
  3. Tanggungjawab.

Dalam penyelenggaraan konseling perorangan, Priyatno, dkk.juga memberikan pedoman sebagai berikut :

  1. Memberikan penjelasan dari contoh masalah-masalah yang dapat ditangani melalui konseling perorangan.
  2. Menjelaskan dan memberikan contoh-contoh tentang tujuan dan kegunaan konseling perorangan.
  3. Menerima klien dalam suasana yang hangat, akrab dan apa adanya.
  4. Mengatur reformasi pelaksanaan konseling perorangan.
  5. Memberikan penstrukturan dalam konseling perorangan.
  6. Menerapkan asas-asas BK dalam konseling perorangan.
  7. Menerapkan teknik-teknik dasar umum dalam konseling perorangan.
  8. Menerapkan teknik-teknik khusus dalam konseling perorangan.
  9. Menerapkan teknik-teknik pengubahan tingkah laku dalam konseling perorangan.
  10. Mengevaluasi proses dan hasil konseling perorangan.
  11. Membuat catatan dan menyusun laporan konseling perorangan sesuai dengan kode etik BK.

B.     Bimbingan dan Konseling Terhadap Murid Yang Lambat Belajar

  1. 1.      Pengertian Murid Lambat Belajar dan Ciri-cirinya

Murid yang lambat belajar adalah sekelompok murid di sekolah yang perkembangan belajarnya lebih lambat dibandingkan dengan perkembangan rata-rata teman seusianya. Adapun ciri-ciri lambat belajar diidentifikasikan sebagai berikut :

  1. Kemampuan kecerdasan rendah.
  2. Perhatian dan konsentrasinya terbatas.
  3. Terbatasnya kemampuan untuk menilai bahan-bahan pelajaran yang relevan.
  4. Terbatasnya kemampuan mengabstraksi dan menggeneralisasi.
  5. Lambat dalam melihat dan menciptakan hubungan antara kata dan pengertian.
  6. Sering mengalami kegagalan dalam mengenal kembali hal-hal yang telah dipelajari.
  7. Waktu untuk mempelajari dan menerangkan pelajaran cukup lama.
  8. Kurang mempunyai inisiatif.
  9. Tidak dapat menciptakan dan memiliki pedoman kerja sendiri.
  10. Kurang mempunyai daya cipta.
  11. Tidak mempunyai kesanggupan untuk menguraikan suatu persoalan.
  12. Tidak mempunyai kesangupan untuk menggunakan proses mental yang tinggi.
  1. 2.      Manifestasi dari Gejala-gejala Tingkah Laku Murid Lambat Belajar

Pada umumnya murid lambat belajar menunjukkan tingkah laku sebagai berikut :

  1. Keterlambatan : lambat menerima pelajaran, lambat dalam mengelola pelajaran, lambat membaca dan sebagainya.
  2. Kelainan tingkah laku, yaitu tingkah laku yang tidak produktif dan kebiasaan jelek.
  3. Kurangnya kemampuan, yaitu kurangnya kemampuan konsentrasi, kemampuan membaca dan sebagainya.
  4. Prestasi yang rendah.
  1. 3.      Pemahaman Latar Belakang Tingkah Laku Lambat Belajar

Dalam memahami latar belakang tingkah laku murid yang lambat belajar dapat dilakukan dengan :

a.      Mempelajari catatan pribadi

Langkah pertama yang harus dilakukan oleh guru / konselor dalam menghadapi kasus murid lambat belajar adalah memahami apa yang menjadi latar belakang gejala-gejala tingkah laku tersebut. untuk memahami latar belakang suatu gejala tingkah laku tertentu, konselor pertama-tama hendaklah mempelajari catatan pribadi murid dan catatan lain yang berhubungan dengan murid tersebut.

b.      Pengumpulan data baru

Apabila data yang diperoleh belum memadai maka masih perlu disusun kemungkinan masalah sementara untuk kemudian diadakan pengumpulan data baru yang dikerjakan pada saat konselor menghadapi seorang kasus. Pengumpulan data baru dipusatkan pada hal-hal berikut :

  1. Untuk mencek kemampuan kecerdasan murid.
  2. Untuk mendapatkan data yang lebih lengkap tentang keadaan keluarga serta pelayanan keluarga terhadap murid sebagai kasus.
  3. Untuk mendapatkan data lebih lanjut tentang hubungan sosial murid dengan teman-temannya.

c.       Menyimpulkan masalah

Penyimpulan masalah hendaknya dalam bentuk alternatif dan disusun dalam satu ranking.Sehingga segera dapat dilihat urutan kemungkinan terkuat sampai pada kemungkinan terlemah.

  1. 4.      Bantuan Terhadap Murid yang Lambat Belajar

Secara umum kemungkinan-kemungkinan bantuan yang dapat diberikan kepada murid lambat belajar antara lain :

a.      Pemberian informasi  secara lisan

Tujuan pemberian informasi lisan adalah memberikan informasi yang dibutuhkan oleh murid sesuai dengan kasus yang dialaminya. Informasi ini dapat diberikan dengan cara tanya jawab, diskusi dan ceramah.

b.      Bantuan penempatan

Bantuan penempatan ini bertujuan untuk memperbaiki bantuan murid dalam mengatasi kesulitan, khususnya yang menyangkut hubungan sosial murid di dalam kelas dan tingkat kemampuan murid.

c.       Pertemuan dengan orang tua

Pertemuan dengan orang tua murid dianggap paling banyak manfaatnya dalam membantu kesulitan-kesulitan yang dihadapi murid, memberikan saran-saran tentang bagaimana sebaiknya memberi pelayanan kepada murid yang lambat belajar dan memberikan motivasi serta petunjuk cara-cara belajar yang efektif dan efisien.

d.      Sosiodrama

Sosiodrama digunakan untuk memperbaiki hubungan sosial dengan teman-temannya.

e.       Konseling individual

Pada tahap ini konselor memberikan bantuan kepada murid secara individual dengan memperhatikan masalah-masalah yang dihadapi.

  1. 5.      Usaha-usaha Tindak Lanjut

Pada tahap ini biasanya dilakukan kegiatan-kegiatan seperti mengadakan wawancara dengan orang tua dan guru untuk mencek apakah perubahan tingkah laku telah terjadi atau belum. Umpan balik yang dapat dilakukan adalah :

  1. Pengumpulan data kembali untuk mendapatkan data yang lebih lengkap.
  2. Perumusan-perumusan kemungkinan masalah kembali.
  3. Pemilihan layanan bantuan bimbingan konseling lain.
  4. Mengulang bantuan bimbingan dan konseling kepada murid yang lambat belajar tersebut.

C.    Bimbingan Terhadap Murid Cepat Belajar

  1. 1.      Pengertian Murid Cepat Belajar

Murid cepat belajar adalah murid yang cepat sekali dalam menerima, memahami dan menguasai pelajaran yang diberikan kepadanya dengan prestasi yang baik sekali yang meliputi semua mata pelajaran.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa murid cepat belajar adalah :

  1. Murid yang pada umumnya memiliki intelegensi tinggi.
  2. Murid yang cepat sekali menerima, menguasai dan memahami serta memproduksi pelajaran yang diterimanya.
  3. Murid yang ranking hasil rata-rata prestasi akademisnya tinggi.
  4. Murid yang sikap, kerajinan, kebersihan dan kesehatannya baik.
  1. 2.      Perbedaan Antara Murid Cepat Belajar dengan Murid Biasa
    1. Sebelum sekolah :
      1. Murid cepat belajar.
      2. Perkembangan bicaranya dimulai lebih awal dan berkembang lebih cepat.
      3. Paling tidak 50% dari murid cepat belajar dapat membaca sebelum masuk sekolah.
    2. Setelah masuk sekolah :
      1. Murid cepat belajar rajin sekolah.
      2. Murid cepat belajar senang mengikuti aktivitas-aktivitas ekstrakurikuler.
      3. Jika ia diberi kesempatan untuk memilih mata pelajaran, akan lebih senang memilih mata pelajaran yang berat-berat.
      4. Kemampuan mentalnya yang superior.
      5. Fisiknya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
      6. Kurang sabar dengan prosedur-prosedur rutin.
      7. Kecakapan dalam berbagai hal ditunjukkan dari berbagai minat.
      8. Memiliki sikap sosial berada di atas murid rata-rata.
      9. Umumnya jujur, suka menolong dan murah hati.
      10. Cenderung tidak mempunyai gangguan-gangguan gagap.
  1. 3.      Kemungkinan Sebab-sebab Timbulnya Masalah Murid Cepat Belajar

Dalam kenyataannya murid cepat belajar sering menghadapi hambatan-hambatan yang sulit dipecahkan sendiri tanpa bantuan orang lain. Hambatan-hambatan tersebut bersumber dari berbagai hal, yaitu :

  1. Kurang perhatian pendidik kepada murid cepat belajar sehingga pendidik ragu-ragu untuk berbuat sesuatu kepadanya.
  2. Perhatian pendidik pada umumnya ditujukan pada murid-murid rata-rata.
  3. Pendidik beranggapan bahwa murid cepat belajar bisa menjaga, memelihara dan mengembangkan dirinya sendiri.
  1. 4.      Kemungkinan Masalah Murid Cepat Belajar
    1. Masalah pendidikan dan jabatan :
      1. Terlalu memforsir diri.
      2. Terlalu mementingkan intelek.
      3. Sulit menyesuaikan cita-cita orang tua dengan minat.
      4. Merasa lambat jalannya kurikulum sekolah.
      5. Sulit memilih jabatan.
      6. Kurang diperhatikan guru.
      7. Bingung mengisi waktu luang.
    2. Masalah penyesuaian sosial :
      1. Tidak disenangi teman.
      2. Tertekan oleh tuntutan orang tua.
      3. Kurang disenangi.
      4. Dieksploitasi keluarga, sekolah dan masyarakat.
    3. Masalah emosional :
      1. Dilingkari dengan pemuasan dorongan.
      2. Merasa sendiri.
      3. Merasa cemas.
    4. Masalah ekonomi :
      1. Mengatur uang jajan.
      2. Kurang biaya.
      3. Terlalu banyak tuntutan dalam hal peralatan.
  1. 5.      Kemungkinan-kemungkinan Reaksi Negatif dari Murid Cepat Belajar

Dengan adanya masalah-masalah yang dihadapi murid cepat belajar, akan merangsang anak untuk membuat reaksi-reaksi penyesuaian yang mungkin merugikan dirinya maupun lingkungannya. Reaksi-reaksi itu adalah :

a.      Pura-pura bodoh

Guru sering menghadapi murid cepat belajar dan mengeksploitasinya. Misalnya disuruh mengembalikan buku. Bagi murid yang lain tindakan guru seperti itu merupakan hal yang luar biasa, tetapi bagi murid cepat belajar hal itu dianggap diperalat, sehingga ia berbuat seolah-olah bodoh.

b.      Pelarian diri

Murid cepat belajar dalam hal kapasitas mental memang berbeda dengan murid rata-rata, meskipun dalam hal lain mempunyai kebutuhan yang sama. Jika ia diabaikan karena kurang pengertian dan perhatian guru tertuju kepada murid lain atau teman-temannya tidak menyukai, maka sebagai pelarian ia akan mengundurkan diri dari kelompoknya.

c.       Minta perhatian

Pada umumnya murid cepat belajar telah mampu membaca sebelum masuk sekolah.Fisik, intelektual dan sosialnya telah matang untuk bersekolah.Oleh karena itu, di sekolah ia cepat menyesuaikan diri. Kekayaan bahasa dan penguasaan konsep telah menyebabkan ia selalu berhasil dalam segala tugas paling cepat selesai sehingga murid yang lain dengan maksud untuk mendapatkan perhatian. Akibatnya situasi kelas dan jalannya proses belajar mengajar menjadi terganggu.

  1. 6.      Cara Membimbing Murid Cepat Belajar

a.      Pelayanan bimbingan pendidikan

  1. Usaha penyaluran, untuk menyalurkan kemampuan murid yang cepat belajar dan mengisi kelebihan waktu di kelas digunakan sistem pengajaran modul dan pengelompokkan mata pelajaran mayor dan pilihan.
  2. Sistem pengadaptasian, konselor berusaha memberikan informasi dan tafsiran dari informasi tentang sifat-sifat dan kebiasaan, kemampuan dan kebutuhan murid cepat belajar kepada guru, agar guru dapat memilih metode mengajar yang sesuai dengan sifat-sifat, kebiasaan, kemampuan dan kebutuhan murid.
  3. Usaha penyesuaian :
    1. Meningkatkan motivasi belajar.
    2. Menghilangkan kecemasan dan kekhawatirannya jika tidak dapat melanjutkan studinya.
    3. Menyadarkan bahwa semua mata pelajaran itu penting.
    4. Memperbaiki sikap dan kebiasaan buruknya di kelas.
    5. Membicarakan bersama-sama guru tentang tingkah laku murid cepat belajar yang berkebiasaan buruk

    Pelayanan bimbingan sosial
    Usaha penyalurannya adalah :

    1. Untuk murid yang apatis :
  • Menempatkan dalam kelompok penyelesaian modul.
  • Mengaktifkan dalam kelompok belajar di rumah.
  • Mengikuti kelompok diskusi, kelompok wisata belajar.
  • Mengikutkan kedalam kepramukaan dan lainnya.
  1. Untuk murid yang dinamis :

Masalah sosial untuk murid yang dinamis sebenarnya berhubungan dengan kedisiplinan mengikuti pelajaran.Karena itu layanan secara khusus dalam bimbingan sosial tidak perlu dikemukakan secara eksplisit.

       Pelayanan bimbingan ekonomi

  1. Masalah sosial ekonomi murid yang penghasilan orang tuanya rendah. Masalah ini menyebabkan motivasi belajar murid menurun, timbul rasa cemas, takut tidak dapat melanjutkan studi sehingga menjadi minder.
  2. Usaha penyaluran, membantu menemukan jalan bagaimana murid dapat memperoleh pekerjaan sambilan, begitu juga orang tuanya.
  3. Usaha pengaturan, memberikan saran kepada sekolah dan perguruan tinggi agar dapat memberikan beasiswa, setidak-tidaknya pembebasan uang sekolah, pemberian buku dan alat-alat pelajaran.
  4. Usaha penyesuaian :
  • Memberikan informasi dan orientasi kepada yayasan-yayasan, badan yang dapat memberikan beasiswa beserta cara bagi yang mendapatkan.
  • Konseling untuk memperkuat ketahanan mental dalam menghadapi kesulitan-kesulitan ekonomi.
  1. Masalah sosial ekonomi untuk murid yang mempunyai kecenderungan banyak mengeluarkan uang untuk biaya sekolah.
    1. Usaha penyaluran, mengaktifkan murid untuk menabung dari kelebihan uang saku.
    2. Usaha pengaturan, memberikan saran kepada orang tua agar jangan terlalu memanjakan anak terutama dengan uang berlebihan.
    3. Usaha penyesuaian, untuk menanamkan cara hidup sederhana dan arti uang bagi kelanjutan studi nanti.

         Pelayanan bimbingan emosi

Dari masalah ekonomi tersebut, maka murid yang penghasilan orang tuanya rendah nampak lebih serius problema emosionalnya, sedang untuk murid yang orang tuanya mempunyai pemghasilan cukup lebih berkurang emosionalnya.Diharapkan dengan layanan bimbingan pendidikan, bimbingan sosial dan bimbingan ekonomi maka problem emosional tersebut dapat diatasi.

BAB III

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Murid yang berkebiasaan buruk adalah perbuatan atau sikap seorang murid yang berulangkali dilakukan dengan sengaja dan sifatnya bertentangan dengan perbuatan atau sikap sebagaimana diharapkan dari padanya oleh orang lain. Jenis-jenis kebiasaan buruk yaitu murid yang agresif, murid pemarah dan mudah tersinggung, murid yang menguasai murid lain, murid curang, menipu, mencuri dan berdusta, murid yang iri hati, murid pemalu, sukar bergaul dan menyendiri, murid yang selalu berusaha menarik perhatian dan murid berkebiasaan kurang aturang, kurang sopan dan kurang tata karma.Langkah bimbingan yang dapat ditempuh untuk mengatasi hal ini diantaranya usaha pencegahan, usaha referal, usaha konseling kelompok dan menyelenggarakan konseling pribadi.

Murid yang lambat belajar adalah sekelompok murid di sekolah yang perkembangan belajarnya lebih lambat dibandingkan dengan perkembangan rata-rata teman seusianya.Manifestasi dari gejala-gejala tingkah laku murid lambat belajar diantaranya keterlambatan, kelainantingkah laku, kurangnya kemampuan dan prestasi yang rendah.Bantuan yang dapat diberikan yaitu pemberian informasi secara lisan, bantuan penempatan, pertemuan dengan orang tua, sosiodrama dan konseling individual.

Murid cepat belajar adalah murid yang cepat sekali dalam menerima, memahami dan menguasai pelajaran yang diberikan kepadanya dengan prestasi yang baik sekali.Kemungkinan masalah murid cepat belajar diantaranya masalah pendidikan dan jabatan, masalah penyesuaian sosial, masalah emosional, masalah ekonomi.Kemungkinan reaksi negatif dari murid cepat belajar yaitu pura-pura bodoh, pelarian diri dan minta perhatian.Cara membimbing murid cepat belajar yaitu pelayanan bimbingan pendidikan, pelayanan bimbingan sosial, pelayanan bimbingan ekonomi dan pelayanan bimbingan emosi.

  1. B.     Saran

Kepada pembaca, khususnya guru / konselor diharapkan agar mampu memahami layanan bimbingan dan konseling agar bisa memanfaatkan dan menerapkannya di sekolah dengan baik. Bimbingan dan konseling sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar untuk mengatasi berbagai macam masalah yang dialami oleh siswa di sekolah, misalnya ada siswa yang memiliki kebiasaan buruk, siswa yang lambat belajar dan siswa yang cepat belajar.

DAFTAR PUSTAKA

 

Prof. Soetjipto dan Drs. Kosasi Raflis, M. Sc. 2000.Profesi Keguruan. Jakarta :
Rineka Cipta

Drs. H. Mulyadi, M. Pd. I. 2010. Diagnosis Kesulitan Belajar dan Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar Khusus.Yogyakarta : Nuha Litera

Amti, Erman dan Marjohan. 1991. Bimbingan dan Konseling. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan 1992 / 1993

http://mahmud09-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/07/diagnosis-kesulitan-belajar.html

http://ebekunt.wordpress.com/2009/04/12/diagnosis-kesulitan-belajar/